Monday, 25 July 2011

Ijtihad Dan Taqlid

Posted by PESANTREN KAMPOENG " JANTIKO MANTAB " BOJONEGORO On 12:21 No comments
Ijtihad adalah mengeluarkan (menggali) hukum-hukum yang terdapat nash (teks) al-qur’an dan sunnah yang jelas tentangnya.  Jadi mujtahid (orang yang melakukan aktivitas ijtihad) ialah orang yang memiliki keahlian dalam hal ini. Ia adalah seorang yang hafal ayat-ayat ahkam (sekitar 500 ayat), hadist-hadist ahkam (sekitar 500 hadist), serta mengetahui sanad-sanad dan keadaan para perawinya, mengetahui nasikh dan mansyukh, ‘am dan khas, muthlaq dan muqayyad serta menguasai betul bahasa arab dengan sekira hafal pemaknaan – pemaknaan setiap nash sesuai dengan bahasa al-Qur’an, mengetahui apa yang telah disepakati oleh para ahli ijtihad dan apa yang diperselisihkan oleh mereka, karena jika tidak mengetahui hal ini maka dimungkinkan akan menyalahi ijma’ (konsensus) para ulama sebelumnya. Lebih dari syarat-syarat di atas, masih ada sebuah syarat penting lagi yang harus terpenuhi dalam berijtihad yaitu kekuatan pemahaman dan nalar. Kemudian juga disyaratkan memiliki sifat ‘adalah; yaitu selamat dari dosa-dosa besar dan tidak membiasakan berbuat dosa-dosa kecil yang bila diperkirakan secara hitungan, jumlah dosa kecilnya tersebut melebihi jumlah perbuatan baiknya. Sedangkan muqallid (orang yang melakukan taklid: mengikuti pendapat para mujtahid) adalah orang yang belum sampai pada derajat tersebut di atas, sehingga mengamalkan pendapat-pendapat mujtahid.  Dalil bahwa orang Islam terbagi kepada dua tingkatan ini adalah hadist Nabi SAW. : نضر الله امرأ سمع مقالتي فوعاها فاداها كما سمعها, فرب مبلغ لا فقه عنده. (رواه الترمذى وابن حبان)  “Allah memberikan keselamatan dan wajah berseri-seri di hari kiamat kepada seseorang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memeliharanya sebagaimana ia mendengarnya, betapa banyak orang yang menyampaikan tapi tidak memiliki pemahaman (terhadapnya)”.  (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban.)    Bagian dari lafazh hadist tersebut memberikan pemahaman bahwa diantara sebagian orang yang mendengar hadist dari Rosululloh SAW. ada yang hanya meriwayatkan saja, dan pemahamannya terhadap kandungan hadist tersebut kurang dari pemahaman orang yang mendengar darinya. Orang yang kedua ini dengan kekuatan nalar dan pemahamannya memiliki kemampuan untuk menggali dan mengeluarkan hukum-hukum dan masalah-masalah yang terkandung di dalam hadist tersebut. Dari sini diketahui bahwa sebagian sahabat Nabi ada yang pemahamannya kurang dari para murid dan orang yang mendengar hadist darinya. Pada lafazh lain hadist ini: “Betapa banyak orang yang membawa fiqh kepada orang yang lebih paham darinya” Dua riwayat ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Ibban. Mujtahid dengan pengertian inilah yang dimaksud oleh hadist Nabi SAW:  “Apabila seorang penguasa berijtihad dan benar maka ia mendapatkan dua pahala dan bila salah maka ia mendapatkan satu pahala.”(H.R al Bukhori)  Dalam hadits ini disebutkan Penguasa secara khusus, karena ia lebih membutuhkan kepada aktivitas ijtihad dari yang lainnya. Dikalangan ulama’ salaf terdapat para mujtahid sekaligus penguasa, seperti al khilafah yang enam; Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Al Hasan ibn Ali, Umar ibn Abdul Aziz, Syuraih al Qodli dan lainya.  Telah terbukti dengan data yang valid bahwa kebanyakan ulama salaf bukan mujtahid, mereka ikut (taqlid) kepada ahli ijtihad yang ada di kalangan mereka. Dalam shahih al-Bukhari diriwayatkan bahwa seorang buruh (pekerja sewaan) telah berbuat zina dengan istri majikannya. Lalu ayah pekerja tersebut bertanya tentang hukuman atas anaknya, ada yang mengatakan:  “Hukuman atas anakmu adalah membayar seratus ekor kambing dan memerdekakan seorang budak perempuan”.  Kemudian sang ayah bertanya kepada ahli ilmu, jawab mereka:  “Hukuman atas anakmu di cambuk seratus kali dan diasingkan satu tahun”.  Akhirnya ia datang kepada Rosululloh SAW. bersama suami perempuan tadi dan berkata:  “Wahai Rasululloh sesungguhnya anakku ini bekerja kepada orang ini, lalu ia berbuat zina dengan istrinya. Ada yang berkata kepadaku hukuman atas anakku adalah dirajam, lalu aku menebus hukuman rajam itu dengan membayar seratu ekor kambing dan memerdekakan seorang budak perempuan. Lalu aku bertanya kepada ahli ilmu dan mereka menjawab hukuman anakmu adalah dicambuk seratus kali dan diasingkan satu tahun?”.  Rasululloh berkata:  “Aku pasti akan memberi keputusan hukum terhadap kalian berdua dengan Kitabulloh, al wahidah (budak perempuan) dan kambing tersebut dikembalikan kepadamu dan hukuman atas anakmu adalah dicambuk seratus kali dan diasingkan (dari kampungnya sejauh jarak Qashar – sekitar 78 Km) setahun”.  Laki laki tersebut sekalipun seorang sahabat tapi ia bertanya kepada para sahabat lainnya dan jawaban mereka salah lalu ia bertanya kepada Rosululloh memberikan fatwa yang sesuai dengan apa yang dikatakan oleh para ulama mereka. Dalam kejadian ini Rosululloh memberikan pelajaran kepada kita bahwa sebagian sahabat sekalipun mereka mendengar langsung hadist dari Nabi namun tidak semua sahabat memiliki kemampuan untuk menganbil hukum dari hadist Nabi. Semakna dengan hadist di atas, hadist yang diriwayatkan Abu Dawud tenteng seorang laki-laki yang terluka dikepalanya. Pada suatu malam yang dingin ia berhadast besar (junub), setelah ia bertanya tentang hukumnya kepada orang-orag yang bersamanya, mereka menjawab: “Mandilah !”. kemudian ia mandi dan meninggal karena kedinginan. Ketika Rosululloh diberi kabar tentang hal ini, beliau berkata: ”Mengapa telah membunuhnya, semoga Alloh membalas perbuatan mereka. Tidaklah mereka bertanya kalau memang tidak tahu, karena obat ketidak-tahuan adalah bertanya!”. jadi obat kebodohan adalah bertanya, bertanya kepada ahli ilmu. Lalu Rosululloh berkata: “Sesungguhnya cukup bagi orang tersebut bertayamum, dan membalut lukanya dengan kain lalu mengusap kain tersebut dan membasuh (mandi) sisa badanya”. (H.R. Abu dawud dan lainnya). Dari kasus ini di ketahui bahwa seandainya ijtihad diperbolehkan bagi setiap orang islam untuk melakukannya, tentulah Rosululloh tidak akan mencela mereka yang memberi fatwa kepada orang junub tersebut padahal mereka bukan ahli untuk berfatwa. Kemudian di antara tugas khusus orang mujtahid adalah melakukan qiyas, yaitu mengambil hukum bagi sesuatu yang tidak ada nashnya dari sesuatu yang memiliki nash karena ada kesamaan dan keserupaan antara keduanya. Karena para ulama ushul Fiqh berkata: “Qiyas adalah tugas orang mujtahid”.  Jadi Ijtihad diperbolahkan bagi para ahli yang memenuhi syarat-sayaratnya, dan bukan bagi setiap individu umat ilsam. Jika ijtihad diperbolehkan bagi setiap muslim meski belum memenuhi syarat maka itu akan mengantarkan pada kekacauan dalam agama dan hukum. Dan demikian kenyataannya Alloh telah membangkitkan untuk berkhidmad kepada agamanya para ulama’ yang amanah, bertaqwa dan wara’, dan Alloh perintahkan agar umat merujuk kepada meraka dalam urusan agama mereka, Alloh ta’ala berfirman:  “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (Ahla Dzkir) jika kamu tidak mengetahuinya”.  (Q.S. an-Nahl: 43). Di antara Ahla adz-Dzikr tersebut adalah para pendiri madzhab empat asy-Syafi’I, Malik, Abu Hanifah dan Ahmad. Kemudian para ulama mujtahid tersebut dan lainya tidak pernah mensyaratkan kepada orang yang hendak mengikuti madzhab mereka bahwa ia harus mengetahui dalil dan metode istinbath-nya, sebagaimana para sahabat juga tidak selalu menjelaskan dalil ketika menyampaikan fatwa kepada umat. Wallahu a’lam.  MEMPERBAHARUI NISAN DAN HADIAH PAHALA  PERTANYAAN: Bagaimana hukumnya memperbaharui nisan dalam tanah pemakaman umum? JAWABAN: Memperbaharui nisan sebelum mayatnya rusak itu hukumnya boleh. Adapun masa rusaknya mayat hingga menjadi tanah, menurut para ahli; ada yang berpendapat 15 tahun, ada pula yang berpendapat 25 tahun, atau 70 tahun, perbedaan tersebut mengingat perbedaan iklim.  Dan boleh memperbaharui sesudah masa rusaknya mayat apabila tidak menghalangi untuk dipergunakan penguburan mayat baru, tetapi apabila menghalangi maka hukumnya haram. Keterangan dalam kitab: 1. Nihayah al-Muhtaj Para jamaah (pengiring jenazah) disunatkan berdiri setelah jenazah dikubur. Adapun jenazah yang sudah hancur sesuai perkiraan para ahli yang sudah berpengalaman tidak di haramkan untuk digali kembali, bahkan diharamkan membangun bangunan dan meratakan (mengecor) tanah di atasnya jika berada di pemakaman umum, karena itu bisa menghalangi orang lain untuk menguburkan (jenazah lain), karena mereka menyangka jenazah yang pertama belum hancur.  (Syamsudin al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, MESIR. Mathba’ah Mushthafa al-Halabi, 1357/1938 juz III hal.40) 2. Fath al-Wahhab Tentang keharaman menggali kubur sebelum jenazah hancur. Sedangkan setelah hancur maka tidak haram digali kembali bahkan yang diharamkan adalah membangun bangunan, meratakan (mengecor) tanah di atasnya agar tidak mencegah orang lain menguburkan jenazah lain karena menyangka jenazah yang semula belum hancur. (Syaikh al-Islam Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahhab, Beirut: Maktabah Dar al-Fikr, 1422 H juz I hal.118)  PERTANYAAN: Dapatkah jika pahala sedekah di hadiahkan kepada mayit? JAWABAN: Dapat ! Keterangan dalam kitab: 1. Al-Muhadzab Ibnu Abbas meriwayatkan, bahwa ada seorang bertanya kepada Rasululloh Saw.: “sesungguhnya ibuku sudah meninggal, apakah bermanfaat baginya (kalau) aku bersedekah atas (nama)nya ?”. Rosululloh menjawab: “ya”. orang itu kemudian berkata: “Sesungguhnya aku memiliki sekeranjang buah, maka aku ingin engkau menyaksikan bahwa sesungguhnya aku bersedekah atas (nama)nya”, (Imam Abu Ishaq al-Syirazi, al-Muhadzab. MESIR: Maktabah Isa al-Halabi, jilid I, hal.464)

0 comments:

Post a Comment

"YANG ANTI TAHLILAN,TAWASSUL,MAULID DILARANG KOMENTAR

Site search

    Yang Silaturohmi Kesini

    Radio Sarkub

    Radio Sarkub

    Get the Flash Player to see this player.