Senin, 06 Juni 2011

PERLUKAH MENGUNJUNGI TEMPAT PENINGGALAN ISLAM BERSEJARAH?

Posted by PESANTREN KAMPOENG " JANTIKO MANTAB " BOJONEGORO On 23.29 No comments






Saat ini, telah terjadi fenomena di tengah masyarakat, adanya pemahaman baru yang dilontar oleh sekelompok orang, agar umat Islam meninggalkan tradisi berziarah ke tempat-tempat peninggalan Islam bersejarah, karena tradisi itu dianggap bukan termasuk amalan yang disyariatkan oleh agama Islam. Hal semacam itu, kini mulai marak terjadi, sebagaimana yang berkembang di negara Saudi Arabiah.

Sebagai ilustrasi, adalah tradisi berziarah ke lembah Uhud, yang mana di tempat itu terdapat makam para syuhada yang meninggal pada saat perang Uhud di jaman Rasulullah SAW. Berziarah ke lembah Uhud ini adalah tradisi turun temurun yang telah ratusan tahun dilakukan oleh hampir seluruh jamaah haji dan umrah, khususnya yang berasal dari Indonesia. 
Namun, kini di lembah Uhud, tepatnya di depan pintu halaman makam Sayyidina Hamzah bin Abdil Mutthalib, salah seorang panglima Islam dalam perang Uhud tersebut, terdapat beberapa muthawwi\` asal Indonesia, yang ditugaskan oleh tokoh-tokoh beraliran Wahhaby untuk menghadang serta menghalau jamaah haji dan Umrah yang berdatangan ke tempat itu. 
Muthawwi\` adalah sebutan untuk polisi swasta di negara Saudi Arabiah. Di depan pintu makam Sayyidina Hamzah, sang muthawwi\` berpidato dengan berapi-api seraya mengatakan, bahwa kedatangan jamaah haji dan umrah ke lembah Uhud untuk berziarah ke makam Sayyidina Hamzah tidaklah disyariatkan oleh Islam. karena itu, para jamaah haji dan umrah yang datang ke lembah Uhud adalah sia-sia, dan tidak mendapatkan pahala sedikitpun\", demikianlah kira-kira cuplikan pidato yang disampaikan oleh sang muthawwi’. Dengan digalakkan pidato semacam itu, tentunya sebagian jama\`ah haji dan umrah yang datang dari kalangan awam, menjadi terpengaruh dan terpedaya. 
Demikian itu, lantaran mayoritas jamaah haji dan umrah adalah tergolong awam dalam memahami hakikat syariat Islam, terlebih yang berkaitan dengan sejarah. Jika saja umat Islam mau mempelajari sedikit lebih mendalam tentang hakikat ziarah ke lembah Uhud, niscaya tidak akan mudah terpedaya oleh slogan-slogan pembodohan terhadap umat semacam itu. 
Mayoritas umat Islam Indonesia adalah bermadzhab Sunni Syafi\`i. Madzhab ini salah satunya mengajarkan betapa pentingnya upaya melestarikan budaya dan peninggalan para leluhur yang telah berjuang menegakkan agama Allah. Salah satu ajarannya adalah menganjurkan umat untuk menziarahi tempat-tempat bersejarah yang kental kaitannya dengan pelestarian syariat Islam. 
Demi menangkal pengaruh negatif dari upaya pendangkalan aqidah, maka sudah selayaknya umat Islam membuka ulang ajaran syariat Islam yang berstandar pemahaman para ulama salaf. 
Di dalam kitab shahih Muslim pada urutan hadits nomer 1393, diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW tatkala melihat gunung Uhud, beliau SAW bersabda yang artinya: \"Sesungguhnya Uhud adalah gunung yang mencintai kita, dan kita juga mencintainya \". Sedangkan dalam kitab shahih Bukhari pada urutan hadits nomer 3675, diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersama shahabat Abu Bakar Asshiddiq, Umar bin Khatthab, dan Utsman bin Affan ra, suatu saat berziarah dan naik ke gunung Uhud, tiba-tiba gunung Uhud itu bergoncang dengan sendirinya, lantas Rasulullah SAW bersabda yang artinya : \"Tenanglah wahai Uhud, sesungguhnya di atasmu ada Nabi, Asshiddiq, dan dua orang (yang bakal) mati syahid\" . 
Jika diteliti dengan seksama, maka masih banyak riwayat yang menerangkan keistimewaan ziarah ke lembah Uhud. Kedatangan Rasulullah SAW bersama ketiga orang shahabat setianya ke atas lembah Uhud, adalah sebagai bukti betapa mulianya amalan berziarah ke lembah Uhud ini. Jadi mengikuti perilaku Rasulullah SAW untuk berziarah ke gunung lembah adalah termasuk sunnah Nabi SAW. 
Allah berfirman dalam surat Al-ahzab ayat 21 yang artinya: \"Sungguh di dalam diri pribadi Rasulullah itu, terdapat teladan yang baik bagi kalian \". Ayat ini bersifat umum, bahwa yang dimaksud keteladanan pada diri Rasulullah SAW adalah meneladani setiap gerak-gerik beliau SAW, termasuk yang bersifat manusiawi, seperti tata cara makan, tata cara bepergian, kesenangan beliau SAW dalam memilih warna pakaian, termasuk juga kedatangan beliau SAW ke gunung Uhud.
 Pada ayat di atas, Allah tidak membatasi misalnya \"fi ibadati rasulillahi uswatun hasanah\" (di dalam ibadah Rasulullah, terdapat teladan yang baik), tetapi secara umum Allah menyebutkan \"fi rasulillahi uswatun hasanah\" (pada diri pribadi Rasulullah terdapat teladan yang baik). 
Ayat ini menunjukkan bahwa segala amalan umat Islam yang diniati mengikuti dan meneladani perilaku Rasulullah SAW, adalah termasuk amalan sunnah yang diperintahkan oleh Allah. Sedangkan umat Islam yang mengamalkan salah satu dari ayat suci Alquran, serta mencontoh perilaku Rasulullah SAW, pasti tidak akan sia-sia baik di dunia apalagi di akhirat, dan pasti mendapatkan pahala yang besar dari Allah. Karena mengamalkan isi Alquran dan Hadits Nabi SAW inilah hakikat dari bersyariat Islam. 
Dari peristiwa ini, maka semakin jelas bagi umat Islam adanya upaya pembodohan terhadap umat Islam, yang dlakukan oleh para muthawwi\` yang kini gencar menghalangi-halangi para jamaah haji dan umrah agar tidak berziarah ke lembah Uhud. 
Padahal Rasulullah SAW justru mengajak tiga orang shahabatnya untuk berziarah ke lembah Uhud, bukan sekedar mendatangi lembahnya, melainkan mendaki gunung tersebut. Hal ini beliau SAW lakukan, karena beliau SAW sangat mencintai gunung Uhud yang bersejarah itu. Perlu diingat pula, bahwa Beliau SAW mendatangi lembah Uhud ini, karena tidak lepas dari keberadaan makam pamanda Beliau SAW yang juga sangat dicintainya, yaitu Sayyidina Hamzah bin Abdil Mutthalib ra. Untuk membuktikan argumentasi ini, perlu kiranya membuka ulang peristiwa perang Uhud, yang terjadi pada awal-awal tahun hijrah Rasulullah SAW ke kota Madinah. Karena disitulah Ummat islam dapat mengenang Sayyidina Hamzah bin Abdil Mutthalib ra. 

(Penulis adalah alumni Makkah-Madinah 1983-1991, merangkap sebagai Pengasuh Ribath Almurtadla Al-islami, Singosari Malang)

                                          SAYYIDINA HAMZAH BIN ABDIL MUTTHALIB,
                                                      PAMANDA RASULULLAH SAW

Rasulullah SAW memandang dengan penuh duka dan kesedihan, tatkala menyaksikan penderitaan yang dialami oleh Sayyidina Hamzah bin Abdil Mutthalib, sang pahlawan sekaligus sebagai panglima perang Uhud, akibat tancapan tombak dan perbuatan mutilasi yang dilakukan oleh Wahsyi si budak milik Hindun di saat perang Uhud berkecamuk. 
Penderitaan itu pula yang mengantarkan Sayyidina Hamzah ra menjadi syahid hingga mendapat predikat sebagai pemimpin syuhada yang mati di medan peperangan. Beliau adalah pemimpin syuhada di dunia maupun di akhirat. 
Di saat Rasulullah SAW berada dalam suasana duka dan kesedihan itu, beliau SAW bersumpah : \"Jikalau ada kesempatan bagiku, maka akan aku cincang tujuh puluh orang dari mereka orang-orang kafir Quraisy\". Namun, pada akhirnya Allah mengingatkan beliau SAW dengan menurunkan firman-Nya agar membatalkan sumpahnya itu, sebagaimana yang telah diterangkan dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, yang artinya : \"Jika kalian akan membalas, maka balaslah senada dengan penyiksaan yang mereka lakukan terhadap kalian, tetapi jika kalian bersabar maka hal itu lebih baik bagi orang-orng yang sabar\" (surat An-nahl ayat 126). 
Dengan turunnya ayat ini, maka Rasulullah SAW lebih memilih bersabar dengan tidak membalas perilaku kaum kafir Quraisy, sekalipun hati beliau dalam kedukaan yang sangat mendalam, mengingat Sayyidina Hamzah, adalah satu-satunya pamanda beliau SAW yang menyatakan masuk Islam secara terang-terangan, sekaligus ikut berjuang dan berperang bersama Rasulullah SAW. 
Demikianlah, sejak peristiwa itu terjadi, maka setiap kali Rasulullah SAW berziarah ke makam Sayyidina Hamzah ra, di lembah gunung Uhud, beliau SAW selalu mengucapkan salam khusus : \"Assalamu \`alaikum bimaa shabartum fa ni\`ma \`uqbad daar\" (Selamat atas dirimu dengan kesabaran yang engkau jalani, sesungguhnya balasan di akhirat adalah kenikmatan yang terbaik). 
Lihatlah, Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada umat Islam tentang bagaimana tata cara berziarah khusus ke makam Sayyidina Hamzah sang pemimpin para syuhada, yaitu dengan cara mengucapkan salam khusus yang disesuaikan dengan isi ayat Alquran, karena turunnya ayat itu juga khusus untuk pamanda beliau SAW. 
Bukankah ajaran Rasulullah SAW tentang ziarah ke makam Sayyidina Hamzah ini, teramat istimewa dalam pandangan syariat Islam? Tidakkah sangat naif jika para muthawwi\` yang bertebaran di sekitar lembah Uhud, tiba-tiba mengkampanyekan keyakinan mereka dengan mengatakan bahwa berziarah ke makam Sayyidina Hamzah tidaklah disyariatkan di dalam Islam? Memang demikianlah ajaran yang selalu mereka lontarkan di depan jamaah haji dan umrah asal Indonesia. 
Permasalahan yang timbul, jika keteladanan Rasulullah SAW dalam berziarah, baik ke gunung Uhud maupun ke makam Sayyidina Hamzah, sudah tidak dianggap lagi sebagai amalan sunnah yang disyariatkan di dalam Islam, maka apakah mereka akan mengatakan bahwa syariat Islam yang benar adalah berteladan kepada pribadi pendiri aliran Wahhaby? Atau mengikuti keyakinan para tokoh kontemporer beraliran Wahhaby Saudi Arabiah lainnya? 
Sebut saja misalnya perilaku pelarangan kepada jamaah haji dan umrah, agar tidak berziarah ke lembah Uhud, tidak berziarah ke makam Sayyidina Hamzah, tidak berziarah ke pemakaman Baqi’, pemakaman Ma’la, tidak berziarah ke Masjid Quba, dan pelarangan-pelarangan lainnya yang menjadi trade mark kaum Wahhaby. Kira-kira yang semacam inikah ajaran syariat Islam yang sebenarnya? 
Tentu, umat Islam dapat menyimpulkan, serta mengambil sikap antara meneladani perilaku Rasulullah SAW, yang beliau SAW sendiri melakukan ziarah ke lembah Uhud, atau mengikuti ajaran Wahhaby yang justru melarang umat Islam berziarah ke tempat-tempat peninggalan Islam bersejarah. Antara mengikuti ajaran Rasulullah SAW berziarah ke makam para shalihin seperti Sayyidina Hamzah, yang mana beliau SAW juga memberi contoh bagi umat, untuk mengucapkan salam khusus saat berziarah ke makam Sayyidina Hamzah ra, atau meneladani tokoh-tokoh Wahhaby yang melarang umat Islam berziarah ke makam Sayyidina Hamzah ra tersebut, dan yang mengatakan bahwa ziarah ke makam para shalihin bukan termasuk amalan sunnah yang disyariatkan Islam. 
Untuk selanjutnya, semoga Allah selalu memberi petunjuk kepada seluruh umat Islam Indonesia, yang tetap teguh memegang madzhab Sunni Syafi’i, sehingga keutuhan dan persatuannya sebagai penghuni mayoritas di negeri ini, akan tetap lestari untuk selamanya. Allahumma amiin.
 

Ratib Haddad

Posted by PESANTREN KAMPOENG " JANTIKO MANTAB " BOJONEGORO On 23.28 No comments


oleh Mbah Jenggot pada 09 November 2010 jam 10:40
Ratib Al-Haddad ini diambil dari nama penyusunnya, Yakni Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, seorang pembaharu Islam (mujaddid) yang terkenal. Dari doa-doa dan zikir-zikir karangan dan susunan beliau, Ratib Al-Haddad lah yang paling terkenal dan masyhur. Ratib yang bergelar Al-Ratib Al-Syahir (Ratib Yang Termasyhur) disusun berdasarkan inspirasi, pada malam Lailatul Qadar 27 Ramadhan 1071 Hijriyah (bersamaan 26 Mei 1661).

Ratib ini disusun atas permintaan salah seorang murid beliau, ‘Amir dari keluarga Bani Sa’d yang tinggal di sebuah kampung di Shibam, Hadhramaut. Tujuan ‘Amir membuat permintaan tersebut untuk mengadakan suatu wirid dan zikir untuk amalan penduduk kampungnya agar mereka dapat mempertahan dan menyelamatkan diri dari ajaran sesat yang sedang melanda Hadhramaut ketika itu.

Pertama kalinya Ratib ini dibaca di kampung ‘Amir sendiri, yakni di kota Shibam setelah mendapat izin dan ijazah daripada Al-Imam Abdullah Al-Haddad sendiri. Selepas itu Ratib dibaca di Masjid Al-Imam Al-Haddad di Al-Hawi, Tarim dalam tahun 1072 Hijriah bersamaan tahun 1661 Masehi. Pada kebiasaannya ratib ini dibaca berjamaah bersama doa dan nafalnya, setelah solat Isya’. Pada bulan Ramadhan dibaca sebelum solat Isya’. Mengikut Imam Al-Haddad di kawasan-kawasan di mana Ratib al-Haddad ini diamalkan, dengan izin Allah kawasan-kawasan tersebut selamat dipertahankan dari pengaruh sesat tersebut.

Ketahuilah bahawa setiap ayat, doa, dan nama Allah yang disebutkan di dalam ratib ini dipetik dari Al-Quran dan hadith Rasulullah S.A.W. Ini berdasarkan sarana Imam Al-Haddad sendiri. Beliau menyusun zikir-zikir yang pendek yang dibaca berulang kali, dan dengan itu memudahkan pembacanya.

Keutamaan Rotib Hadad. (1)

Cerita-cerita yang dikumpulkan mengenai kelebihan RatibAl-Haddad banyak tercatat dalam buku Syarah Ratib Al-Haddad, antaranya: Telah berkata Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Jufri yang bertempat tinggal di Seiwun (Hadhramaut): “Pada suatu masa kami serombongan sedang menuju ke Makkah untuk menunaikan Haji, bahtera kami terkandas tidak dapat meneruskan perjalanannya kerana tidak ada angin yang menolaknya. Maka kami berlabuh di sebuah pantai, lalu kami isikan gerbah-gerbah (tempat isi air terbuat dari kulit) kami dengan air, dan kami pun berangkat berjalan kaki siang dan malam, kerana kami bimbang akan ketinggalan Haji. Di suatu perhentian, kami cuba meminum air dalam gerbah itu dan kami dapati airnya payau dan masin, lalu kami buangkan air itu. Kami duduk tidak tahu apa yang mesti hendak dibuat. Maka saya anjurkan rombongan kami itu untuk membaca Ratib Haddad ini, mudah-mudahan Allah akan memberikan kelapangan dari perkara yang kami hadapi itu. Belum sempat kami habis membacanya, tiba-tiba kami lihat dari kejauhan sekumpulan orang yang sedang menunggang unta menuju ke tempat kami, kami bergembira sekali. Tetapi ketika mereka mendekati kami, kami dapati mereka itu perompak-perompak yang kerap merampas harta-benda orang yang lalu-lalang di situ. Namun rupanya Allah Ta’ala telah melembutkan hati mereka bila mereka dapati kami terkandas di situ, lalu mereka memberi kami minum dan mengajak kami menunggang unta mereka untuk disampaikan kami ke tempat sekumpulan kaum Syarif* tanpa diganggu kami sama sekali, dan dari situ kami pun berangkat lagi menuju ke Haji, syukurlah atas bantuan Alloh SWT karena berkat membaca Ratib ini.

Cerita ini pula diberitakan oleh seorang yang mencintai keturunan Sayyid, katanya: “Sekali peristiwa saya berangkat dari negeri Ahsa’i menuju ke Hufuf. Di perjalanan itu saya terlihat kaum Badwi yang biasanya merampas hak orang yang melintasi perjalanan itu. Saya pun berhenti dan duduk, di mana tempat itu pula saya gariskan tanahnya mengelilingiku dan saya duduk di tengah-tengahnya membaca Ratib ini. Dengan kuasa Alloh mereka telah berlalu di hadapanku seperti orang yang tidak menampakku, sedang aku memandang mereka.” Begitu juga pernah berlaku semacam itu kepada seorang alim yang mulia, namanya Hasan bin Harun ketika dia keluar bersama-sama teman-temannya dari negerinya di sudut Oman menuju ke Hadhramaut. Di perjalanan mereka dibajak oleh gerombolan perompak, maka dia menyuruh orang-orang yang bersama-samanya membaca Ratib ini. Alhamdulillah, gerombolan perompak itu tidak mengapa-apakan siapapun, malah mereka berlalu dengan tidak mengganggu.

Apa yang diberitakan oleh seorang Arif Billah Abdul Wahid bin Subait Az-Zarafi, katanya: Ada seorang penguasa yang ganas yang dikenal dengan nama Tahmas yang juga dikenal dengan nama Nadir Syah. Tahmas ini adalah seorang penguasa ajam yang telah menguasai banyak dari negeri-negeri di sekitarannya. Dia telah menyediakan tentaranya untuk memerangi negeri Aughan. Sultan Aughan yang bernama Sulaiman mengutus orang kepada Imam Habib Abdullah Haddad memberitahunya, bahwa Tahmas sedang menyiapkan tentera untuk menyerangnya. Maka Habib Abdullah Haddad mengirim Ratib ini dan menyuruh Sultan Sulaiman dan rakyatnya membacanya. Sultan Sulaiman pun mengamalkan bacaan Ratib ini dan memerintahkan tenteranya dan sekalian rakyatnya untuk membaca Ratib i ini dengan bertitah: “Kita tidak akan dapat dikuasai Tahmas kerana kita ada benteng yang kuat, iaitu Ratib Haddad ini.” Benarlah apa yang dikatakan Sultan Sulaiman itu, bahwa negerinya terlepas dari penyerangan Tahmas dan terselamat dari angkara penguasa yang ganas itu dengan sebab berkat Ratib Haddad ini.

Saudara penulis Syarah Ratib Al-Haddad ini yang bernama Abdullah bin Ahmad juga pernah mengalami peristiwa yang sama, yaitu ketika dia berangkat dari negeri Syiher menuju ke bandar Syugrah dengan kapal, tiba-tiba angin macet tiada bertiup lagi, lalu kapal itu pun terkandas tidak bergerak lagi. Agak lama kami menunggu namun tidak berhasil juga. Maka saya mengajak rekan-rekan membaca Ratib ini , maka tidak berapa lama datang angin membawa kapal kami ke tujuannya dengan selamat dengan berkah membaca Ratib ini.

Suatu pengalaman lagi dari Sayyid Awadh Barakat Asy-Syathiri Ba’alawi ketika dia belayar dengan kapal, lalu kapal itu telah tersesat jalan sehingga membawanya terkandas di pinggir sebuah batu karang. Ketika itu angin juga macet tidak dapat menggerakkan kapal itu keluar dari bahayanya. Kami sekalian merasa bimbang, lalu kami membaca Ratib ini dengan niat Alloh akan menyelamatkan kami. Maka dengan kuasa Alloh SWT datanglah angin dan menarik kami keluar dari tempat itu menuju ke tempat tujuan kami. Maka kerana itu saya amalkan membaca Ratib ini. Pada suatu malam saya tertidur sebelum membacanya, lalu saya bermimpi Habib Abdullah Haddad datang mengingatkanku supaya membaca Ratib ini, dan saya pun tersadar dari tidur dan terus membaca Ratib Haddad itu.

Di antaranya lagi apa yang diceritakan oleh Syeikh Allamah Sufi murid Ahmad Asy-Syajjar, iaitu Muhammad bin Rumi Al-Hijazi, dia berkata: “Saya bermimpi seolah-olah saya berada di hadapan Habib Abdullah Haddad, penyusun Ratib ini. Tiba-tiba datang seorang lelaki memohon sesuatu daripada Habib Abdullah Haddad, maka dia telah memberiku semacam rantai dan sayapun memberikannya kepada orang itu. Pada hari besoknya, datang kepadaku seorang lelaki dan meminta daripadaku ijazah (kebenaran guru) untuk membaca Ratib Haddad ini, sebagaimana yang diijazahkan kepadaku oleh guruku Ahmad Asy-Syajjar. Aku pun memberitahu orang itu tentang mimpiku semalam, yakni ketika saya berada di majlis Habib Abdullah Haddad, lalu ada seorang yang datang kepadanya. Kalau begitu, kataku, engkaulah orang itu.” Dari kebiasaan Syeikh Al-Hijazi ini, dia selalu membaca Ratib Haddad ketika saat ketakutan baik di siang hari mahupun malamnya, dan memang jika dapat dibaca pada kedua-dua masa itulah yang paling utama, sebagaimana yang dipesan oleh penyusun Ratib ini sendiri. Ada seorang dari kota Quds (Syam) sesudah dihayatinya sendiri tentang banyak kelebihan membaca Ratib ini, dia lalu membuat suatu ruang di sudut rumahnya yang dinamakan Tempat Baca Ratib, di mana dikumpulkan orang untuk mengamalkan bacaan Ratib ini di situ pada waktu siang dan malam.

Di antaranya lagi, apa yang diberitakan oleh Sayyid Ali bin Hassan, penduduk Mirbath, katanya: “Sekali peristiwa aku tertidur sebelum aku membaca Ratib, aku lalu bermimpi datang kepadaku seorang Malaikat mengatakan kepadaku: “Setiap malam kami para Malaikat berkhidmat buatmu begini dan begitu dari bermacam-macam kebaikan, tetapi pada malam ini kami tidak membuat apa-apa pun karena engkau tidak membaca Ratib. Aku terus terjaga dari tidur lalu membaca Ratib Haddad itu dengan serta-merta.

Setengah kaum Sayyid bercerita tentang pengalamannya: “Jika aku tertidur ketika aku membaca Ratib sebelum aku menghabiskan bacaannya, aku bermimpi melihat berbagai-bagai hal yang mengherankan, tetapi jika sudah menghabiskan bacaannya, tidak bermimpi apa-apa pun.”

Di antara yang diberitakan lagi, bahawa seorang pecinta kaum Sayyid, Muhammad bin Ibrahim bin Muhammad Mughairiban yang tinggal di negeri Shai’ar, dia bercerita: “Dari adat kebiasaan Sidi Habib Zainul Abidin bin Ali bin Sidi Abdullah Haddad yang selalu aku berkhidmat kepadanya tidak pernah sekalipun meninggalkan bacaan Ratib ini. Tiba-tiba suatu malam kami tertidur pada awal waktu Isya', kami tidak membaca Ratib dan tidak bersembahyang Isya', semua orang termasuk Sidi Habib Zainul Abidin. Kami tidak sedarkan diri melainkan di waktu pagi, di mana kami dapati sebagian rumah kami terbakar.
Kini tahulah kami bahwa semua itu berlaku karena tidak membaca Ratib ini. Sebab itu kemudian kami tidak pernah meninggalkan bacaannya lagi, dan apabila sudah membacanya kami merasa tenteram, tiada sesuatupun yang akan membahayakan kami, dan kami tidak bimbang lagi terhadap rumah kami, meskipun ia terbuat dari dedaunan korma, dan bila kami tidak membacanya, hati kami tidak tenteram dan selalu kebimbangan.”


Berkata Habib Alwi bin Ahmad, penulis Syarah Ratib Al-Haddad: “Siapa yang melarang orang membaca Ratib ini dan juga wirid-wirid para salihin, niscaya dia akan ditimpa bencana yang berat daripada Allah Ta’ala, dan hal ini pernah berlaku dan bukan omong-omong kosong.” Berkata Sidi Habib Muhammad bin Zain bin Semait Ba’alawi di dalam kitabnya Ghayatul Qasd Wal Murad: Telah berkata Saiyidina Habib Abdullah Haddad: “Siapa yang menentang atau membangkang orang yang membaca Ratib kami ini dengan secara terang-terangan atau disembunyikan pembangkangannya itu akan mendapat bencana seperti yang ditimpa ke atas orang-orang yang membelakangi zikir dan wirid atau yang lalai hati mereka dari berzikir kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingatiKu, maka baginya akan ditakdirkan hidup yang sempit.” ( Thaha: 124 ) Allah berfirman lagi: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingati Tuhan Pemurah, Kami balakan baginya syaitan yang diambilnya menjadi teman.”
( Az-Zukhruf: 36 ) Allah berfirman lagi: “Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingat Tuhannya, Kami akan menurukannya kepada siksa yang menyesakkan nafas.” ( Al-Jin: 17)

(1) Dipetik dari: Syarah Ratib Haddad: Analisa Dan Komentar - karangan Syed Ahmad Semait, terbitan Pustaka Nasional Pte. Ltd.

الراتب الشهير
للحبيب عبد الله بن علوي الحداد
Ratib Al Haddad
Moga-moga Allah merahmatinya [Rahimahu Allahu Ta’ala]
يقول القارئ: الفَاتِحَة إِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَشَفِيعِنَا وَنَبِيِّنَا وَمَوْلانَا مُحَمَّد صلى الله عليه وسلم - الفاتحة-

1. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ. آمِيْنِ
2. اَللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّموَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ العَلِيُّ العَظِيْمُ.

3. آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّه وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْناَ وَأَطَعْناَ غُفْراَنَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ
.
4. لاََ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِنْ نَسِيْنَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنآ أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْناَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

5 لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. (X3)

6. سٌبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اْللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ. (X3)
7.سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحاَنَ اللهِ الْعَظِيْمِ. (X3)

8. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. (X3)
9.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ. ( X3)
10. أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ. (X3)
11. بِسْـمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُـرُّ مَعَ اسْـمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي الْسَّمَـآءِ وَهُوَ الْسَّمِيْـعُ الْعَلِيْـمُ. (X3)
12. رَضِيْنَـا بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْـلاَمِ دِيْنـًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيّـًا. (X3)
13. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْخَيْرُ وَالشَّـرُّ بِمَشِيْئَـةِ اللهِ. (X3)
14. آمَنَّا بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ تُبْناَ إِلَى اللهِ باَطِناً وَظَاهِرًا. (X3)
15. يَا رَبَّنَا وَاعْفُ عَنَّا وَامْحُ الَّذِيْ كَانَ مِنَّا. (X3)

16. ياَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْراَمِ أَمِتْناَ عَلَى دِيْنِ الإِسْلاَمِ. (X7)
17. ياَ قَوِيُّ ياَ مَتِيْـنُ إَكْفِ شَرَّ الظَّالِمِيْـنَ. (X3)
18. أَصْلَحَ اللهُ أُمُوْرَ الْمُسْلِمِيْنَ صَرَفَ اللهُ شَرَّ الْمُؤْذِيْنَ. (X3)
19. يـَا عَلِيُّ يـَا كَبِيْرُ يـَا عَلِيْمُ يـَا قَدِيْرُ
يـَا سَمِيعُ يـَا بَصِيْرُ يـَا لَطِيْفُ يـَا خَبِيْرُ. (X3)
20. ياَ فَارِجَ الهَمِّ يَا كَاشِفَ الغَّمِّ يَا مَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرُ وَيَرْحَمُ. (X3)

21. أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبَّ الْبَرَايَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنَ الْخَطَاياَ.(X4)
22. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. (X50)

23. مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ وَمَجَّدَ وَعَظَّمَ وَرَضِيَ اللهُ تَعاَلَى عَنْ آلِ وَأَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ بِإِحْسَانٍ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَعَلَيْناَ مَعَهُمْ وَفِيْهِمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
24. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.
قُلْ هُوَ اللهُ أَحَـدٌ. اَللهُ الصَّمَـدُ. لَمْ يَلِـدْ وَلَمْ يٌوْلَـدْ. وَلَمْ يَكُـنْ لَهُ كُفُـوًا أَحَـدٌ. (3X3)
25. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ، وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَد

26. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ، مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، اَلَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ.
27. اَلْفَاتِحَةَ
إِلَى رُوحِ سَيِّدِنَا الْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ مُحَمَّد بِن عَلِيّ باَ عَلَوِي وَأُصُولِهِمْ وَفُرُوعِهِمْ وَكفَّةِ سَادَاتِنَا آلِ أَبِي عَلَوِي أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.
28. اَلْفَاتِحَةَ
إِلَى أَرْوَاحِ ساَدَاتِنَا الصُّوْفِيَّةِ أَيْنَمَا كَانُوا فِي مَشَارِقِ الأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا وَحَلَّتْ أَرْوَاحُهُمْ - أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِعُلُومِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ، وَيُلْحِقُنَا بِهِمْ فِي خَيْرٍ وَعَافِيَةٍ.

29. اَلْفَاتِحَةَ
إِلَى رُوْحِ صاَحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ الإِرْشَادِ وَغَوْثِ الْعِبَادِ وَالْبِلاَدِ الْحَبِيْبِ عَبْدِ اللهِ بِنْ عَلَوِي الْحَدَّاد وَأُصُوْلِهِ وَفُرُوْعِهِ أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّة وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ بَرَكَاتِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.
30. اَلْفَاتِحَة
إِلَى كَافَّةِ عِبَادِ اللهِ الصّالِحِينَ وَالْوَالِدِيْنِ وَجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ أَنْ اللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيَنْفَعُنَا بَأَسْرَارِهِمْ وبَرَكَاتِهِمْ
31. (ويدعو القارئ):
اَلْحَمْدُ اللهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وأَهْلِ بَيْتِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ الْفَتِحَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَالسَّبْعِ الْمَثَانِيْ أَنْ تَفْتَحْ لَنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تُعَامِلُنَا يَا مَوْلاَنَا مُعَامَلَتَكَ لأَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تَحْفَظَنَا فِي أَدْيَانِنَا وَأَنْفُسِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَأَصْحَابِنَا وَأَحْبَابِنَا مِنْ كُلِّ مِحْنَةٍ وَبُؤْسٍ وَضِيْر إِنَّكَ وَلِيٌّ كُلِّ خَيْر وَمُتَفَضَّلٌ بِكُلِّ خَيْر وَمُعْطٍ لِكُلِّ خَيْر يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن.
32. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ رِضَـاكَ وَالْجَنَّـةَ وَنَـعُوْذُ بِكَ مِنْ سَـخَطِكَ وَالنَّـارِ. (X3)

IJAZAH KUBRO

Posted by PESANTREN KAMPOENG " JANTIKO MANTAB " BOJONEGORO On 23.24 No comments


TATA KRAMA MELAKUKAN HUBUNGAN INTIM (✿ ♥‿♥) (ringkasan dari Kitab Qurrotul 'Uyun)

(mohon maaf kali ini kami belum bisa menampilkan gambar, audio-visual atau alat peraga lainnya...ATAU Jika memungkinkan anda bisa membuat sendiri gambar, audio-visual atau alat peraga lainnya)

Sekali lagi disini ana Cuma nulis poin2 nya aja..^_^ afwan…
1.mencari waktu usai sholat
2.diusahakan hatinya bersih
3.memulai dari arah kanan dan berdo`a
Bismillaahi, allahumma jannibnasy syaythaana wa jannibisy syaythaana maa razaqtanaa.
Artinya : Dengan nama Allah, ya Allah;jauhkanlah kami dr gangguan syaitan dan jauhkanlah syaitan dr rezki (bayi) yg akan Engkau anugerahkan pd kami. (HR. Bukhari)
4.hendaknya wudhu dahulu,
5.mengucapkan salam dan menyentuh ubun-ubun istri
6.memeluk istri dan sambil berdo`a
7.mencuci ujung jari kedua tangan dan kaki istri
8.ciptakan suasana tenang dan romantis
9.memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai

masih ada bagian2 yg harus di perhatikan….
Bagian 1 Merayu dan bercumbu
Bagian 2 doa sebelum bersetubuh
Bagian 3 Do’a Hampir keluar mani “Alhamdulillaahil ladzii khalaqa minal maa’i basyara”
Bagian 4 Syahwat terputus ditengah jalan
Bagian 5 Dogy Style
“Isteri kamu adlh ladang bagimu maka datangilah ladangmu itu dr arah mana sj yg
kamu sukai "
Bagian 6 (bersetubuh dapat pahala)
“…..dan apabila engkau menyetubuhi isterimu, engkau mendapat pahala”.
Bagian 7 (Horny lagi)
Apabila diantara kamu telah mecampuri isterinya kemudian ia akan mengulangi
persetubuhannya itu maka hendaklah ia mencuci zakarnya terlebih dahulu.

Bersambung,,,insya Allah kalo ada waktu…^_^

Salah Satu Cerita Dari Sahabat Nabi Muhammad Saw Yg Bernama Abdul Wahid

Posted by PESANTREN KAMPOENG " JANTIKO MANTAB " BOJONEGORO On 23.23 1 comment
Pelajarilah Dan Amalkanlah !!

Suatu Ketika Abdul Wahid Sedang Tertidur Ia Bermimpi Di Dalam Tidurnya.
Abdul Wahid Bermimpi Bertemu Dengan Manusia Berjubah Hitam Dan Menyeramkan, Orang Tersebut Berkata Kepada Abdul Wahid : Yaa Abdul Wahid Coba Engkau Lihat Wajah Ayahmu !!
Akhirnya Abdul Wahid Terbangun Dari Tidurnya , Dan Ia Melihat Wajah Ayahnya Sangat Hitam.
Suatu Ketika Abdul Wahid Tertidur Lagi Ia Bermimpi Bertemu Dengan Manusia Berjubah Putih Dan Bersorban Hijau , Abdul Wahid Bertanya : Man Anta ?
Orang Tersebut Menjawab : Ana Muhammad. ( Rasulullah Saw ).
Nabi Muhammad Mengusap Wajah Ayahnya Abdul Wahid , Kemudian Wajah Ayahnya Itu Berubah Menjadi Putih Dan Bersinar.
Abdul Wahid Bertanya : Yaa Rasulullah Mengapa Wajah Ayahku Berubah Menjadi Hitam Dan Kemudian Wajahnya Berubah Kembali Menjadi Putih Dan Bersinar ?
Rasulullah Saw Menjawab : Ayahmu Penuh Dengan Kemaksiatan ( Sering Berbuat Maksiat ) , Itulah Yang Menyebabkan Wajah Ayahmu Berubah Menjadi Hitam.
Lalu Abdul Wahid Bertanya Lagi : Yaa Rasulullah Lalu Mengapa Engkau Mengusap Wajah Ayahku Sehingga Wajahnya Menjadi Putih Dan Bersinar ?
Rasulullah Saw Menjawab : Ayahmu Ahli Bersholawat Kepadaku ( Sering Bersholawat Kepadaku ) Itulah Yg Membuat Wajah Ayahmu Menjadi Putih Dan Bersinar.
Lalu Rasulullah Berkata : Kelak Nanti Ayahmu ( Ayah Abdul Wahid ) Akan Bersamaku Di Syurga. ( Ayahmu Akan Mendapatkan Syafa'at Dariku )

Itulah Keberkahan Bersholawat Kepada Baginda Besar Sayyidina Muhammad Saw !!
Insya' Allah Barang Siapa Yg Sering Bersholawat Kepada Baginda Sayyidina Muhammad , Maka Orang Tersebut Akan Bersama Nabi Muhammad Di Syurga.
Karena Ia Mendapatkan Syafa'at Dari Baginda Sayyidina Muhammad Saw.

ALLAHUMMAJ'ALNI MAHBUBAN FI QOLBY WA NUR SAYYIDUL WUJUD HABIBIKA SAYYIDINA MUHAMMAD SAW.

SYEKH ABDUL QODIR AL -JILANY ADALAH ULAMA SEKALIGUS AULIYA' ASWAJA

Posted by PESANTREN KAMPOENG " JANTIKO MANTAB " BOJONEGORO On 23.17 No comments
BANTAHAN TERHADAP TAJSIMNYA SYEKH ABDUL QODIR AL -JILANY

Syekh Abdul Qodir Al Jilany adalah adalah ulama besar dan seorang auliya, Syekh Abu al Hasan al Nadwi , dalam Muqoddimah Sirr Al Asror mengatakan beliau bermadzhab Syafi'I dan bermadzhab Hanbali, beliau dalam hidupnya dikenal sebagai ulama yang cakap dalam segala ilmu,mulai fiqih, hadist, tafsir, dan ilmu adab,dan keilmuwan yang lainnya, sehingga tidak salah apabila kemudian beliau saat ini "di klaim" beberapa pihak, bahkan yang terbaru beliau juga di klaim masuk dalam manhaj Salafy dan terlepas dari tasawwuf, berbagai tinjauan ilmiyah di alamatkan pada beliau sebagai salah satu peletak dasar thoriqoh yang paling berpengaruh didunia Islam selain Syekh Ahmad Badawi, Syekh Ahmad al Rifa'I, Syekh Abu Hasan al Syadzili, Syekh Bahauddin al Naqsyabandi, dan beberapa ulama' yang lain, tercatat beberapa karya beliau seperti Risalah al Ghoutsiyyah, Sirr Al Asror, Fathu Al Rabbany, al Ghunniyah fi al Tashowwuf, Maratib al Wujud, dan beberapa karya yang lain, pendek kata beliau seorang yang termasuk aktif menulis, sehingga pada akhirnya beberapa kalangan ulama besar pengikutnya menulis biografi beliau dalam beberapa Manaqib.

Salah satu yang dialamatkan beliau adalah masalah beliau dianggap salah satu ulama yang tajsim sebagaimana di sebutkan dalam manaqib-manaqib beliau diantara dalam kitab al Nur al Burhan yang berbunyi :
انت واحد في السماء وانا واحد في الأرض

Dalam kitab yang lain yaitu dalam Tafrikhul Khotir hal 46 berbunyi:

انت واحد في السماء وانت الكبير الجبار المتكبر وانا الحقير الفقير القليل لااله الا انت

Secara tekstual sepertinya dapat disimpulkan bahwa beliau menetapkan Allah itu berarah atau bertempat, banyak nash yang secara tekstual (lihat dalam kitab Al Ghunniyah) sepertinya mengisyaratkan bahwa Allah berarah dan bertempat tertentu, namun apabila kita kaji sebagaimana penelitian yang disampaikan KH. Drs Achmad Muhdhor dari Pesantren Luhur Malang dengan mengambil pendapat Syekh Muhyiddin bin al A'robi dalam kitabnya Aqidatul Khowwash yang berbunyi :

وليس فيها (الغنية) لفظ الجهة...... وهذا يؤيد ماذكره الأئمة الأعلام نجم الدين الكبرى واليافعي والشعراني وابن حجر من تنزيه سيد الشيخ عبد القادر عن ذلك . 25

"Dan didalam kitab Al Ghunniyah tidak terdapat lafadz arah……, dan ini dikuatkan oleh pendapat yang dikemukakan oleh para alim diantaranya yaitu: Najamuddin al-Kubro, Imam al-Yafi'I, Imam Sya'roni, Ibnu Hajar, bahwa Syekh Abdul Qodir al jilany terlepas dari I'tiqod tentang penetapan arah bagi Tuhan".

Permasalahan ini pada dasarnya merupakan masalah ta'wil tentang "istawaa"nya Allah, untuk itu kita harus juga melihat pendapat beliau Syekh Abdul Qodir mengenai ta'wil dalam kitab Sirr al Asror, beliau mengatakan:
التفسير للعوام و التأويل للخواص,لأنهم العلماء الراسخون,لأن معنى الرسوخ الثبات والإستقرار والإستحكام فى العلم... (سر الأسرار:61).
Dalam pendapatnya diatas nampaknya beliau membedakan pembidanan antara tafsir dan ta'wil, tafsir bagi beliau untuk orang umum, sedangkan ta'wil bagi orang khusus, dalam hal ini adalah ulama' yang mampu menetapkan, dan mengambil suatu hikmah dari suatu ilmu.

Untuk itu dalam memahami teks manaqib diatas perlu juga dipahami dengan beberapa pandangan para ulama tentang makna istaawa, untuk hal ini Sayyid Mohammad bin Alwi al Maliki al Hasani yang mengambil dari imam madzhabnya yaitu Imam Malik yang mengatakan:
الإستواء معلوم والكيف مجهول
Dari sini sangat jelas Imam Malik berpendapat dalam kitab Huwa Allah halaman 29 istawaa sudah maklum,dan tentang caranya kita tidak tahu, namun keterangan tersebut masih membutuhkan penjelasan supaya jelas yang dimaksud Imam Malik yaitu dengan sebuah keterangan sebagai berikut:
الإستواء معلوم اي الإستواء الذي يليق بكمال الله وهو الإستيلاء والقهر معلوم عندك وكيفية استيلائه وقهره لعباده مجهولة.
Maksudnya adalah yang dimaksud istawaa itu maklum, yaitu arti dari istawaa yang sesuai dengan kesempurnaan Allah, yaitu "al Istilaa" (mengatur) dan al-Qohru (menguasai), adalah maklumbagimu. Sedangkan cara mengatur dan menguasainya Allah kepada hambanNya adalah tidak jelas dan tidak bias kuita ketahuiNya.
الإستواء معلوم معلوم بمعنى اسنواء الحوادث معلوم عندك وكيفية استواء الله المذكور فى الأية مجهولة لأنا نعلم حقيقة هذا الإستواء ولا كيفية.
Maksudnya adalah istawaa itu maklum, adalah arti dari pada istiwaaul hawadits (makhluq) adalah maklum bagimu. Sedangkan cara istiwa'nya Allah yang termaktub dalam ayat adalah majhul, karena kita tidak mengetahui hakekat istiwa itu dan cara istiwa'.

Penjelasan diatas akan sepadan dengan apa yang disampaikan oleh Syekh Jalaluddin al-Suyuthi al Syafi'I dalam al-Itqon fii al'ulum al-Qur'an juz 2 halaman 6 ketika menjelaskan beberapa makna istawaa ketika beliau menolak makan istawaa dengan istaqorro (bersemayam)
حكي مقاتل والكلبي عن ابن عباس استواء بمعنى استقر وهذا ان صح يحتاج الى تأويل فإن الإستقرار يشعر بالتجسيم
Beliau memperingatkan tentang makna istawaa apabila menggunakan makna istaqorro (artinya Allah itu bertempat), maka harus dita'wil sebab apabila tidak akan terjerumus dalam tajsim.

Berdasarkan pemaparan diatas maka tepatlah apabila kita analisa secara sintesis dan comparative dua perkataan Syekh Abdul Qodir al-Jilany diatas masing-masing bermaksud untuk menunjukkan keagungan dan ketinggian derajad dari pada Allah. Al Mursyid Syekh Muslih bin Abdur Rahman al-Maroqi mengartikan sebagai berikut:
"Allah utawi panjenengan meniko dzat ingkang setunggal dzate lan sifate lan af'ale kang miliki lan ngeratoni ing dalem langet lan bumi"
Hal yang sama juga disampaikan dalam syarakh Nur al Burhany al-Habib Sholeh bin Idrus al-Habsyi yang tidak kurang lebih dengan pendapat Syekh Muslih dan beliau juga mengatakan
إن الله وتر اي واحد في الذات والصفات والأفعال لامثل ولا ضد ولاند.
Beliau habib Sholeh juga menambahkan dalam memahami makna istaawa perlu di bekali dengan pengetahuan dialekta arab berupa ilmu nahwu, ilmu bayan, ilmu ma'ani, ilmu badi' serta ilmu ushul fiqih dan lain sebagainya.

Akhirnya dari penjelasan diatas sungguh salah apabila beliau Syekh Abdul Qodir Al jilany termasuk ulama yang faham aqidahnya tajsim.

BAPA'E OCHA

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hasany, al-Sayyid Mohammad bin Alwi al-Maliki, Huwa Allah, Makkah,tt

Al-Irbily, Ibnu Muhyiddin, Tafrih al-Khothir, al Iskandariyyah, Istanbul, tt

Al-Jilany, Abdul Qodir, al Syekh, al-Ghunniyah li Thoriq al Haq, Dar el-Kutub al-Arobiyyah, Beirut, Libanon, tt

……………………………………………., Sirr al-Asror wa mudhhar al-Anwar fiimaa, yahtaaju ilaihi al-Anwar, Damaskus, Syria, 2007/1427 H

Al-Maroqi, Abi Luthf al-Hakim Muslih bin Abdur Rahman, Nur al-Burhany, Graha Toha Putera, Semarang, tt

Al-Suyuthi, Jalaluddin al-Syafi'I, al-Itqon fii 'Ulm al-Qur'an, Dar el-Fikr, Beirut,tt

Muhdlor, Achmad, Drs. H, Bantahan terhadap Sorotan Masalah Manaqib Syekh Abdul Qodir al-Jilany, Lembaga Reseach Islam Pesantren Luhur, Malang, 1974.

AL BARZANJY ADALAH 100% ASWAJA

Posted by PESANTREN KAMPOENG " JANTIKO MANTAB " BOJONEGORO On 23.15 No comments
BANTAHAN TERHADAP TUDUHAN BAHWA ALBARZANJY ITU MILIK SYI'AH

Sudah bukan rahasia lagi bahwa para pengikut Syekh Mohammad bin Abdul Wahab telah melakukan banyak propaganda terhadap umat islam lainnya utamanya kaum Aswaja dalam berbagai bentuk, mulai dari mentahrif, mentadlis beberapa kitab ulama Sunni, mengklaim beberapa Imam telah "taubat" dan telah mengikuti manhaj mereka, berusaha membenturkan antara pengikut madzhab dengan imam madzhab mereka, dan yang tidak kalah keji berusaha untuk menuduh pengikut madzhab serta Asyairoh dan Maturidiyyah telah menyimpang dan merupakan "Syiah", Syiah yang merupakan firqoh Islam generasi awal yang muncul berbarengan dengan Khawarij, Khawarij sendiri adalah sekte yang muncul juga dari tempat faham Wahaby lahir.

Salah satu bentuk propaganda adalah menuduh kitab al-Barzanji sebagai kitabnya Syi'ah, kitab al-Barzanji ini adalah sebuah kitab yang berisi pujian-pujian sebagai bentuk rasa mahabbah kepad Nabi, biasanya dibaca malam jum'at atau malam-malam yang lain dan tergantung kultur setempat dan dibeberapa daerah sering disebut Maulid atau Muludan, sesungguhnya tidak hanya al-Barzanji saja satu-satunya yang menjadi bacaan rutin banyak kitab-kitab yang sama yang lain, namun rupanya kitab al-barzanji ini yang paling banyak di baca sebagaimana diungkang oleh Syekh Abdul Hayyi al-Kattani dalam kitab al-Ta'lif al-Maulidiyyah.

Al-Barzanji sebagaimana diungkapkan oleh Habib Sholeh bin Idrus al_Habsyi serta oleh Syekh Abdul Hayyi al-Kattani ditulis oleh Sayyid Ja'far bin Abdul Karim al-Barzanji al-Husaini al-Madany, beliau adalah seorang ulama besar Syafiiyyah, bertarekat Qodiriyyah dan pernah menjadi mufti di Madinah pada zaman Bani Usmaniyyah berkuasa, dalam hal ini Habib Sholeh mengatakan:
لأن مؤلفه السيد جعفرالبرزنجي اكبر شحصيات ذلك العصر في التشريع الشيعي وهذا خطأ مبين لأنه من أهل السنة والجماعة مفتى الشافعية , ولد بالمدينة المنورة واخذ عن والده والشيخ محمد حيوة السندي واجازه السيد مصطفى البكري ........
"Maksudnya beliau Sayyid Ja'far al-Barzanji bukanlah seorang pembesar Syi'ah, karena beliau adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan merupakan mufti Syafiiyyah, lahir di Madinah berguru kepada Syekh Hayat al-Sindhi dan mendapat Ijazah dari Sayyid Musthofa al-Bakri."

Beliau Sayyid Ja'far wafat pada tahun 1177 H, beliau adalah termasuk ulama yang kreatif menulis diantaranya adalah "al-Barr al'Ajil" yang mendapat persetujuan dari Syekh Muhammad Ghofil, "Fath al-Rahman" yang mendapat persetujuan Sayyid Ramadhan, terkhusus masalah maulid karya beliau adalah 'Aqd al-Jauhar fii Maulid al-Naby al-Azhar", sejarah kitab kemudian diberikan syarah oleh beberapa ulama setelahnya dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa,diantaranya oleh Sayyid Ja'far bin Ismail al-Barzanji al-Madany berupa "al-Kaukab al-Anwar 'Alaa 'Aqd al-Jauhar fii Maulid al-Naby al-Azhar", yang ditulis 1279 H, kemudian seorang ulama Malikiyyah dari Mesir yaitu Syekh Mohammad bin Ahmad 'Alisy al-Maliki al-Azhary dengan judul kitab "Al Qoul al-Munjy 'Alaa Maulid al-Barzanjy", kitab yang disusun oleh Sayyid Ja'far yang awal kemudian di jadikan dalam bentuk susunan nadzam oleh salah seorang keturunanya yaitu Sayyid Zainal Abidin bin Mohammad al-Hadi bin Zainal Abidin bin Ja'far al-Barzanjy.

Kitab terakhir tersebut akhirnya ditulis dan di beri syarakh oleh ulama Nusantara (Indonesia, Malaysia, Pattani, Tumasik) yaitu Syekh Mohammad Nury al-Jawy (dalam literature arab pengarang di daerah Nusantara sering disebut al-Jawy), dalam hal ini Syekh Mohammad Nury al-Jawy merekamnya dalam sebuat tulisan berikut:
ولنا سند عجيب متصل بمولد البرزنجي من داعي سليل شيخنا عالم المدينة المنورة الشهاب احمد بن اسماعيل ابن زين العابدين بن محمد الهادي بن زين العابدين ابن السيد الجعفر البرزنجي مسلسلا بالأباء عن ابيه زين العابدين عن ابيه محمد الهادي عن ابيه زين العابدين عن ابيه مؤلفه وبهذا السند اروي نظمة المذكور السيد زين العابدين و اروي شرحه الكوكب الأنوار عن شيخنا بدر الحجاز السيد حسين بن محمد بن حسين الحبشي الباعلوي المكي عن مؤلفه السيد جعفر البرزنجي المتوفى بالمدينة المنورة عام 1317 ه.

Berdasarkan hal tersebut sungguh salah apabila tuduhan selama ini bahwa kitab al-Barzanji merupakan kitab dari sekte Syi'ah, dan penuduhan itu hanyalah propaganda murahan dari para salafiyyun.

BAPA'E OCHA

AL MARAJI'

Al- Maraqi, Abi Luthf al-Hakim Muslih bin Abdur Rahman, Nur al-Burhany, Graha Toha Putera, Semarang, 1383 H

Al-Kattany, Abdul Hayyi, al-Syekh,al-Ta'lif al-Maulidiyyah, Maktabah al-Kattani, Iskandariyah, Mesit, tt
Contoh penyelewengan makna hadith oleh wahabi

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو مَسْلَمَةَ سَعِيدُ بْنُ يَزِيدَ الْأَزْدِيُّ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ قَالَ نَعَمْ
Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abu Iyas berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata, telah mengabarkan kepada kami Abu Maslamah Sa’id bin Yazid Al Azdi berkata, “Aku bertanya kepada Anas bin Malik, “Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat dengan memakai sandal?” Dia menjawab, “Ya.” [HR. Bukhari]


Hadith diatas adalah benar dan merupakan hadith dibolehkannya sholat menggunakan sandal, tapi ditangan wahabi pemahaman hadith ini menjadi rusak karena “sholat menggunakan sandal” dihukumi sunnah...
Maka inilah hasilnya pemikiran tersebut......
Betapa banyak Masjid yang menyelisihi sunah apalagi dianggap menentang sunnah dengan adanya larangan masuknya sandal kedalam masjid...

Oh sulitnya menjadi umat islam....
wes mlebu neroko kuabeh!!

Posted by PESANTREN KAMPOENG " JANTIKO MANTAB " BOJONEGORO On 23.07 No comments
Diskusi Tentang Islam, Sufi se-Dunia Kumpul di Indonesia Senin, 06 Juni 2011 17:43 WIB  REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj mengatakan, para sufi dari seluruh dunia akan berkumpul di Indonesia untuk berdiskusi tentang Islam dan ajaran kebaikan. "Kita perkuat dengan pertemuan para sufi se-dunia untuk memperkuat bahwa Islam Indonesia adalah Islam moderat dan toleran," katanya saat bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin.  Dia menjelaskan, pertemuan sufi se-dunia itu adalah bagian dari peringatan hari lahir ke-85 NU. "Pertemuan yang akan diselenggarakan pada 16 Juli 2011 itu akan dihadiri oleh 43 tarekat sufi dari Indonesia serta 22 tarekat sufi dari luar negeri," katanya.  Menurut dia, sufi dari sejumlah negara akan hadir, antara lain dari Mesir, Syria, Amerika Serikat, Jepang, Maroko, Turki, dan para sufi dari negara anggota ASEAN. Islam di Indonesia selalu mengutamakan perdamaian dan antikekerasan.  Secara khusus, Said Aqil menyatakan dukungan NU terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, bahkan PBNU selalu menjunjung tinggi asas-asas dalam Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945. "Bagi NU, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, dan UUD 1945 sudah final," katanya.  Peringatan hari lahir ke-85 Nahdlatul Ulama akan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Peringatan hari lahir tersebut diawali dengan berbagai kegiatan, antara lain seminar tentang ekonomi kerakyatan serta pameran hasil karya warga nahdliyin.  Selain itu juga akan ada defile Barisan Ansor Serbaguna (BANSER). Ribuan angggota BANSER akan turut serta dalam acara itu. "Sekitar 30.000 Ansor banser akan defile," kata Said Aqil.

Site search

    Yang Silaturohmi Kesini

    Radio Sarkub

    Radio Sarkub

    Get the Flash Player to see this player.